MUHAMMADIYAHPEKAJANGAN.OR.ID , KEDUNGWUNI - Dalam rangka kunjungan Pendidikan Dasar Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (PD.PKPNU) Ponpes Baitul Moqqodas Kelurahan Kedungwuni Timur sebagai bagian tugas kegiatan agenda tersebut, Muh. Ghufron beserta santri-santrinya dari Pondok Pesantren bersilaturahmi ke Kantor Cabang Muhammadiyah Pekajangan pada Ahad, 23 Juni 2024.
Dalam kegiatan silaturahmi tersebut, para santri melakukan wawancara tentang sejarah Muhammadiyah Pekajangan, yang dijelaskan oleh Arif Rohman Hakim, selaku Pimpinan Cabang Muhammadiyah, beliau menuturkan sejarah garis besar berdirinya Muhammadiyah di Kauman Yogyakarta, yang mana KH. Ahmad Dahlan dan KH. Hasyim Asy'ari nyantri kepada guru yang sama kepada KH. Sholeh Darat di Semarang, kemudian menceritakan rentetan kondisi Desa Pekajangan yang masih rawan para penjahat pada masanya, kemudian berangsur menjadi kawasan industri sagon dan dilanjutkan industri tenun. Muhammadiyah di Pekajangan berdiri 10 tahun setelah Muhammadiyah di Yogyakarta didirikan dan merupakan Cabang pertama yang di area Pantura yang merupakan Cabang Muhammadiyah tertua di Pantura, sebagai jalan penyebaran islam di daerah Pekajangan oleh KH. Cholil, KH. Abdurahman serta Lurah Pekajangan KH. Dimyati saat itu KH. Ahmad Dahlan sendiri yang meresmikan Cabang Muhammadiyah Pekajangan pada tanggal 15 November 1922.
Awal gerakan dimulai dari pengajian di mushola dirintis oleh tokoh setempat yaitu Kyai Mu’allim, Kyai Abu Umar, M. Chumasi, H. Makhali, H. Djazuli, M. Tjardan Ibrahim dan KH. Abdurrahman. Lahir perkumpulan AMBUDI AGAMA sebagai gerakan agama tradisional yang menjadi cikal bakal Muhammadiyah Cabang Pekajangan. Pemerintah Belanda pada waktu itu menyulitkan ruang gerak para guru agama khususnya di Pekajangan bahkan hampir seluruh diantara Hindia Belanda. Bagi yang mengajar tanpa izin dari perkumpulan kaum pribumi dianggap ilegal dan diancam akan dibubarkan seperti pengabdian ambudi agama terancam dibubarkan. Waktu menuntut ilmu di Jamsaren Solo, KH. Abdurrahman sering mendengar gerakan Muhammadiyah oleh KH. Ahmad Dahlan di Yogyakarta dan akhirnya berkunjung kesana. KH. Abdurrahman pulang ke Pekajangan dengan mantap, melebur perkumpulan Ambudi Agama menjadi Cabang Muhammadiyah di Pekajangan pada 15 November 1922 sehingga berdirilah Muhammadiyah di Pekajangan. Perkembangan dakwah Cabang Pekajangan sampai ke daerah Pemalang, Tersono dan Kendal.
Beliau juga mengenalkan jajaran struktural kepengurusan Pimpinan Cabang Muhammadiyah Pekajangan berserta jumlah ranting dan AUM yan dikelola di Cabang Pekajangan.
Muh. Ghufron juga menanyakan tanggapan dari Pengurus PCM dan PCPM Pekajangan tentang hubungan dengan Organisasi Nahdlatul Ulama selama ini, yang mana hubungan kerjasama sudah terjalin baik itu di kegiatan resmi maupun dalam kehidupan bermasyarakat, misalnya ketika di Pekajangan ada kegiatan Pekajan Bersholawat, KOKAM dan BANSER bersinergi dalam menjaga menertibkan jalan raya dan acara tersebut.
Harapannya organisasi Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama di Pekajangan bisa rukun dan saling toleransi karena sama-sama umat muslim dan menjaga kesatuan NKRI.


Penyerahan kenang-kenangan buku dari PCM Pekajangan
Sumber Berita : MPI PCM Pekajangan
Powered by Froala Editor