Khutbah Idul Adha 1447 H/20206 M
IBADAH KURBAN DALAM PARADIGMA PENDIDIKAN KARAKTER ISLAM: PENGUATAN NILAI KEPEDULIAN SOSIAL DI ERA MODERN
Oleh : Dr. Kyai Sumarno, M.Pd.I
(Mudir IMBS Miftahul Ulum Pekajangan, Ketua Majelis Tarjih PDM Pekalongan dan Anggota Komisi Fatwa MUI Kab Pekalongan)
الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِذَبْحِ الْأُضْحِيَّةِ. وَبَلَغَنَا إِلَى هٰذَا الْيَوْمِ مِنْ عَشْرِ ذِي الْحِجَّةِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ ذُوْ رَحْمَةٍ وَاسِعَةٍ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الرَّحْمَةِ، وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ ذَوِي الْعُقُوْلِ السَّلِيْمَةِ، صَلَاةً وَسَلَامًا مُتَلَازِمَيْنِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ الرَّحْمَنِ، فَإِنِّي أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ الْمَنَّانِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْانِ: إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ
Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillāhil hamd.
Ma’asyiral Muslimin jamaah shalat Idul Adha yang dirahmati Allah
Alhamdulillāhi rabbil ‘ālamīn, segala puji bagi Allah SWT yang telah melimpahkan nikmat iman, Islam, dan kesehatan kepada kita semua. Dialah yang mempertemukan kita pada hari yang agung ini, hari raya Idul Adha 1447 H/20206 M, hari pengorbanan dan keikhlasan. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Saya berwasiat kepada diri saya dan kepada jamaah sekalian untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT, dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Allah SWT berfirman dalam QS. Ali Imran: 102
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ
Artinya : Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim. (QS. Ali Imran: 102)
Jamaah Shalat Idul Adha yang dimuliakan Allah,
Hari ini kita merayakan hari raya Idul Adha, peristiwa yang tidak dapat dilepaskan dari kisah agung Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS. Sebuah kisah yang menjadi dasar pendidikan karakter dalam Islam tentang keikhlasan, ketaatan, pengorbanan, dan kepedulian sosial. Allah SWT berfirman dalam QS. Ash-Shaffat: 100-105:
رَبِّ هَبْ لِيْ مِنَ الصّٰلِحِيْنَ(100) فَبَشَّرْنٰهُ بِغُلٰمٍ حَلِيْمٍ(101) فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ(102) فَلَمَّآ اَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِيْنِۚ(103) وَنَادَيْنٰهُ اَنْ يّٰٓاِبْرٰهِيْمُ ۙ(104) قَدْ صَدَّقْتَ الرُّءْيَا ۚاِنَّا كَذٰلِكَ نَجْزِى الْمُحْسِنِيْنَ(105)
Artinya : (Ibrahim berdoa,) Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (keturunan) yang termasuk orang-orang saleh. Maka, Kami memberi kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak (Ismail) yang sangat santun. Ketika anak itu sampai pada (umur) ia sanggup bekerja bersamanya, ia (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Pikirkanlah apa pendapatmu?” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu! Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang sabar.” Ketika keduanya telah berserah diri dan dia (Ibrahim) meletakkan pelipis anaknya di atas gundukan (untuk melaksanakan perintah Allah), Kami memanggil dia, “Wahai Ibrahim, sungguh, engkau telah membenarkan mimpi itu.” Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat kebaikan. )QS. Ash-Shaffat: 100-105(.
Dalam perspektif pendidikan karakter Islam, ibadah kurban tidak sekadar dimaknai sebagai ritual tahunan yang bersifat seremonial, melainkan sebagai proses pedagogis yang sarat dengan pembentukan nilai (value formation) dan transformasi kepribadian (personality transformation). Kurban menjadi medium pendidikan spiritual, moral, dan sosial yang terintegrasi, yang bertujuan membentuk insan berkarakter insan kamil yakni manusia yang memiliki keseimbangan antara dimensi ketuhanan (rabbaniyyah) dan kemanusiaan (insaniyyah). Oleh karena itu, pemaknaan kurban dalam kerangka pendidikan karakter Islam perlu dilihat sebagai proses internalisasi nilai yang berlangsung secara sadar, sistematis, dan berkelanjutan. Dalam perspektif pendidikan karakter Islam, ibadah kurban memiliki makna yang sangat mendalam:
Pertama : Internalisasi Nilai Ketakwaan
Allah SWT menegaskan dalam QS. Al-Hajj: 37 :
لَن يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَـٰكِن يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنكُمْ
Artinya : Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaanmu. (QS. Al-Hajj: 37)
Ayat ini memberikan landasan teologis bahwa substansi ibadah kurban bukan terletak pada aspek material berupa daging atau darah hewan, melainkan pada dimensi immaterial berupa ketakwaan. Dalam perspektif pendidikan, hal ini menunjukkan bahwa kurban merupakan sarana internalisasi nilai (internalization of values), yaitu proses penanaman nilai ketakwaan ke dalam kesadaran individu hingga menjadi bagian dari kepribadian yang menetap (enduring disposition). Ketakwaan dalam konteks ini tidak hanya dimaknai sebagai kepatuhan normatif terhadap perintah Allah, tetapi juga sebagai kesadaran etis yang melahirkan perilaku konsisten dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, kurban berfungsi sebagai instrumen pendidikan yang mentransformasikan nilai-nilai ilahiyah menjadi karakter personal yang teraktualisasi dalam tindakan nyata.
Kedua : Pendidikan Keikhlasan dan Pengorbanan
Allah SWT menegaskan dalam QS. Al-An’am: 162
قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Artinya : Katakanlah (Nabi Muhammad), “Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.(QS. Al-An’am: 162)
Ayat ini menegaskan prinsip tauhid sebagai fondasi utama dalam setiap aktivitas kehidupan seorang mukmin, termasuk dalam pelaksanaan ibadah kurban. Dalam kerangka pendidikan karakter, ayat ini mengandung nilai keikhlasan (ikhlas) dan pengorbanan (sacrifice) yang menjadi inti dari pembentukan integritas spiritual. Keikhlasan merupakan kualitas batin yang mengarahkan seluruh tindakan semata-mata karena Allah SWT, tanpa orientasi pada pengakuan sosial atau kepentingan duniawi. Sementara itu, pengorbanan dalam ibadah kurban merepresentasikan kemampuan individu untuk melepaskan sesuatu yang dicintai demi tujuan yang lebih tinggi. Dalam perspektif psikologi pendidikan Islam, hal ini berkaitan dengan pengendalian diri (self-regulation) dan kematangan emosional, di mana individu mampu menundukkan dorongan egoistik demi kepentingan transendental. Dengan demikian, ibadah kurban berfungsi sebagai wahana pembelajaran eksistensial yang menanamkan nilai totalitas pengabdian kepada Allah SWT, sekaligus membentuk karakter individu yang berintegritas, tulus, dan berorientasi pada nilai-nilai luhur.
Ketiga : Penguatan Nilai Kepedulian Sosial
Allah SWT menegaskan dalam QS. Al-Hajj: 28
فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْبَائِسَ الْفَقِيرَ
Artinya : Makanlah sebagian darinya dan (sebagian lainnya) berilah makan orang yang sengsara lagi fakir. (QS. Al-Hajj: 28)
Ayat-ayat tersebut menegaskan dimensi sosial dalam ibadah kurban, yaitu sebagai sarana distribusi kesejahteraan dan penguatan solidaritas sosial. Dalam perspektif pendidikan karakter Islam, kurban menjadi instrumen pembelajaran sosial (social learning) yang menanamkan nilai empati, kepedulian, dan keadilan distributif.Konsep bahwa dalam setiap harta terdapat hak orang lain mengajarkan peserta didik untuk memiliki kesadaran kolektif (collective consciousness) dan tanggung jawab sosial (social responsibility). Kurban tidak hanya memperkuat hubungan vertikal dengan Allah SWT (hablum minallah), tetapi juga mempererat hubungan horizontal antar sesama manusia (hablum minannas). Lebih jauh, dalam konteks masyarakat modern yang ditandai oleh kesenjangan sosial dan individualisme, ibadah kurban memiliki relevansi yang sangat kuat sebagai mekanisme edukatif untuk membangun solidaritas sosial yang inklusif. Kurban mengajarkan bahwa kesejahteraan tidak boleh bersifat eksklusif, melainkan harus didistribusikan secara adil demi terciptanya harmoni sosial.
Dalam konteks kehidupan modern saat ini, kita menyaksikan realitas ketimpangan sosial yang semakin nyata. Sebagian masyarakat hidup dalam kemewahan, sementara sebagian lainnya masih berjuang memenuhi kebutuhan dasar. Fenomena individualisme, materialisme, dan melemahnya kepedulian sosial menjadi tantangan besar bagi umat Islam. Di sinilah relevansi ibadah kurban sebagai media pendidikan karakter sosial.Ulama kontemporer seperti Yusuf al-Qaradawi menegaskan bahwa ibadah dalam Islam tidak hanya berdimensi spiritual, tetapi juga sosial. Kurban, menurut beliau, adalah bentuk nyata dari fiqh al-ta‘āwun (fikih solidaritas sosial), yaitu ajaran Islam yang mendorong kerja sama dan kepedulian antar sesama. Demikian pula pemikiran Syekh Wahbah az-Zuhaili menjelaskan bahwa kurban merupakan syiar Islam yang mengandung nilai taqarrub ilallah sekaligus takaful ijtima’i (jaminan sosial dalam Islam).
Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillāhil hamd.
Ma’asyiral Muslimin jamaah shalat Idul Adha yang dirahmati Allah
Dengan demikian, ibadah kurban dalam perspektif pendidikan karakter Islam merupakan proses pembelajaran holistik yang mencakup dimensi spiritual, moral, dan sosial. Ia bukan sekadar ritual simbolik, tetapi sebuah praksis pendidikan yang mampu membentuk manusia bertakwa, ikhlas, dan peduli terhadap sesama. Oleh karena itu, sudah seharusnya ibadah kurban tidak hanya dipahami sebagai kewajiban tahunan, tetapi juga sebagai momentum reflektif untuk membangun karakter diri dan memperkuat komitmen sosial dalam kehidupan bermasyarakat.
Teks bentuk PDF bisa diakses pada link:
https://drive.google.com/file/d/1jnHt-6U2oXdkLHkYKQOyWnDViegCJVCP/view?usp=drive_link
Powered by Froala Editor